TIMES GOWA, JAKARTA – Amerika Serikat terus menambah kekuatan militernya di kawasan Timur Tengah. Pengerahan dilakukan secara simultan di laut, darat, dan udara, dengan pola yang mengarah pada upaya pengepungan strategis terhadap Iran, termasuk ibu kota Teheran.
Jejak militer Amerika di kawasan tersebut terpantau kian substansial. Sekitar 50.000 personel Angkatan Bersenjata AS kini ditempatkan di berbagai negara Timur Tengah, dengan basis utama di Qatar, Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Oman.
Dari jumlah tersebut, sekitar 10.000 pasukan terkonsentrasi di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar. Instalasi ini merupakan pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di kawasan dan menjadi pusat penting operasi udara regional.
Dalam beberapa pekan terakhir, intelijen sumber terbuka mencatat peningkatan signifikan aktivitas militer AS. Citra satelit menunjukkan munculnya struktur baru di sekitar Al Udeid yang oleh para analis dikaitkan dengan penguatan sistem pertahanan udara dan rudal.
Sementara itu, data pelacakan penerbangan mengungkap kedatangan berbagai aset strategis, mulai dari jet tempur F-15, pesawat tanker pengisian bahan bakar di udara, pesawat angkut, hingga platform pengawasan. Di antaranya adalah pesawat patroli maritim P-8 Poseidon serta pesawat intelijen jarak jauh yang beroperasi di dekat wilayah udara Iran.
Peningkatan kehadiran militer juga tampak di laut. Gugus tempur kapal induk Amerika Serikat dilaporkan bergerak menuju kawasan Teluk Persia. Kapal induk USS Abraham Lincoln, yang sebelumnya bertugas di kawasan Indo-Pasifik, disebut diperintahkan berbalik arah menuju Timur Tengah.
Meski posisi pastinya tidak lagi diumumkan secara terbuka, data penerbangan menunjukkan aktivitas pesawat yang terkait dengan kapal induk tersebut di sekitar wilayah Oman. Gugus tempur ini membawa sekitar 70 pesawat, termasuk jet tempur siluman F-35, serta dikawal kapal perusak bersenjata rudal jelajah Tomahawk yang kerap didukung kapal selam bertenaga nuklir.
Pentagon hanya memberikan keterangan terbatas mengenai pergerakan tersebut dan menyebutnya sebagai bagian dari latihan rutin serta langkah defensif. Namun, jika dilihat secara menyeluruh, skala, komposisi, dan waktu pengerahan ini dinilai melampaui sekadar sinyal kehadiran.
Selain Amerika Serikat, Inggris juga dilaporkan mengirim satu skuadron jet tempur Typhoon ke kawasan tersebut dengan alasan meningkatkan keamanan regional. Di saat yang sama, Angkatan Udara AS mengumumkan latihan besar untuk menunjukkan kemampuan pengerahan dan keberlanjutan kekuatan udara tempur di Timur Tengah.
Hingga kini, belum ada kejelasan apakah langkah-langkah tersebut bertujuan murni untuk pencegahan, menekan Iran kembali ke meja perundingan, atau menyiapkan landasan bagi skenario militer lanjutan.
Respons Keras Teheran
Iran menanggapi situasi ini dengan peringatan terbuka. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Abdolrahim Mousavi, menyatakan bahwa setiap eskalasi militer atau upaya pengepungan terhadap Iran akan menyulut konflik yang dapat “membakar Amerika dan sekutunya”.
Mousavi menegaskan Iran bukan negara yang mudah dikepung, baik dari sisi geografis maupun geopolitik. Ia bahkan menyindir wacana blokade angkatan laut dengan meminta pihak-pihak yang mengusulkannya untuk kembali mempelajari peta kawasan serta kompleksitas posisi strategis Iran di tingkat regional dan internasional.
Peringatan serupa disampaikan Wakil Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia, yang menyebut setiap serangan terhadap Iran akan dibalas dengan respons yang membawa penyesalan besar bagi pihak lawan.
Nada keras juga datang dari Brigadir Jenderal Kiumars Heidari. Ia meminta Amerika Serikat bersikap bijaksana dalam menghadapi Iran dan kekuatan militernya.
“Amerika Serikat harus bersikap logis dalam berurusan dengan Iran dan angkatan bersenjata negara yang kuat. Jika tidak, mereka akan menerima balasan yang disesalkan,” ujar Heidari.
Ia menambahkan, kehadiran kekuatan asing yang bersifat menekan di kawasan hanya akan meningkatkan ketegangan dan memperbesar risiko konflik terbuka. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: AS Perkuat Militer di Timur Tengah, Iran Ingatkan Risiko Eskalasi Terbuka
| Pewarta | : Widodo Irianto |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |